Review: Perahu Kertas (Dewi Lestari)

Rasanya uda cukup lama gw ga baca novel berbahasa Indonesia maupun karangan penulis Indonesia. Setelah menyelesaikan Skinny dengan susah payah, akhirnya gw memutuskan untuk baca Perahu Kertas karangan Dewi Lestari. Dan ternyata ga sia-sia gw meluangkan waktu gw yang berharga untuk membaca buku ini. It’s worth my time.

Perahu Kertas mengusung sebuah realita tentang betapa jalan hidup itu tidak bisa ditebak, baik itu masalah percintaan, karir, dll. Beberapa orang belum tahu kemana mereka harus menuju dalam hidupnya, beberapa orang sudah memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Meski tujuan hidup kita sudah jelas di depan mata, ternyata untuk mencapainya, tidaklah semudah melihatnya.

Tidak semua orang bisa mengambil garis lurus dan segera melaju ke tujuannya. Ada kalanya kita harus berputar,  berkeliling, dan mengambil jalan yang berliku nan panjang untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itu pula yang terjadi pada tokoh-tokoh protagonist dalam novel ini.

Kugy, seorang cewe yang baru lulus SMA dan akan segera melanjutkan studinya di Bandung. Kugy mungkin adalah cewe yang paling ga tau rambu-rambu dalam berpakaian dan berpenampilan. Bahasa gampangnya adalah urakan. Urakannya adalah yang paling parah dari para urak-urak yang ada. Hahahhaha. Gw ga bisa bayangin ada cewe kaya dia eksis di kota Jakarta ini dan ga dianggap ga waras.

Keenan, seorang cowo blasteran (ganteng donk pastinya) yang baru aja menamatkan SMA nya di Belanda dan akan melanjutkan kuliahnya di Bandung karena desakan Papanya. Keenan sendiri adalah seorang yang berjiwa seni amat kental dan mencintai dunia perlukisan. Namun sayang, Papanya Keenan sangat tidak menyetujui Keenan mendalami dunia perlukisan.

Dua manusia itu bertemu di kota kembang dan hubungan keduanya bergulir dengan penuh ….  Penuh apa ya… ya pokoknya ada lucunya, ada romantisnya… silahkan baca sendiri deh. Well.. setting cerita dimulai ketika mereka baru mau masuk kuliah dan diakhiri pada saat mereka semua sudah dewasa dan sukses… so, jangan keburu males dgn setting anak kuliahan ya.. Hehehhe

I can relate myself to their personality and relationship very well. Pada awalnya gw merasa si Kugy ini adalah cewe paling ajaib dari yang paling ajaib. Gw kenal banyak cewe tomboy, tapi biasanya mereka ga seaneh Kugy. Setelah membaca lebih jauh, barulah gw merasa bahwa keanehan Kugy berangsur-angsur berkurang. Semakin gw melihat Kugy, semakin gw melihat diri gw juga ada di dalam diri Kugy.

Beberapa contohnya ya..

Gw juga memiliki beberapa sifat atau “keanehan” yang  dimiliki Kugy. Gw merasa usia gw dan obsesi gw yang menyangkut dengan fairytale uda ga matching lagi dengan realitas sekarang. Tapi gw, sampai detik ini, ingin sekali merasakan fairytale moment in my life. Misal: tinggal di sebuah kastil di wilayah pegunungan di mana di sekeliling gw adalah sebuah taman raksasa yang indah dipenuhi dengan bunga yang berwarna warni. Duuh…. Ngeces de

Gw jg bisa merasakan bagaimana bergejolak dan kegelisahan yang dirasakan Kugy ketika Noni, sahabatnya, ingin menjodohkan Keenan dengan Wanda yang cantik. Kugy yang selalu ceria dan penuh semangat, seketika menjadi murung. I know that feeling!

Gw juga merasa bahwa rintik2 hujan di luar dan berselimut hangat di dalam kamar merupakan kombinasi yang sangat dashyat untuk ketenangan jiwa.

So.. sosok Kugy ini ga terlalu lebay juga kalo gw pikir-pikir.. kecuali selera berpakaiannya ya. Asli, lebay abis de kl yg satu itu.

Oh ya, mungkin kalo ada yang pengen gw kritik dari novel ini adalah di awal Kugy digambarkan sebagai cewe urakan abis. Di bayangan gw si Kugy ini cewe tomboy yang ga ada cantik2nya sama sekali. Kok tiba2 di akhir2 si Kugy kok jadi sering disebut2 cantik sih, baik oleh lawan jenisnya maupun sahabatnya si Noni, dan ga ada deskripsi sama sekali bagaimana si Kugy bisa disebut sebagai sosok yang cantik secara fisik. Gw bener2 have no idea ttg kecantikan si Kugy, apakah itu matanya, bibirnya, atau apanya. Pokoknya dia cantik. Titik. No question allowed.  Cewe gembel yang ga melakukan transformasi besar2an kok bisa jadi cantik tiba2.

Dalam buku ini, ada satu momen indah yang menurut gw sangat romantis, ketika Keenan dalam semalam membuatkan puluhan sketsa untuk mengilustrasikan Pangeran Lobak, Peri Seledri, Penyihir Nyi Kunyit, Wortelina, dan karakter-karakter lain dari dongeng Kugy. Gw bener-bener pengen baca dongeng Kugy. Seandainya aja Dee ngasih dongeng-dongeng Kugy itu sebagai bonus dari novelnya. Pasti lebih berkesan buat pembacanya.  Jadi seolah-olah sosok Kugy itu bener-bener real…

Itu cuma sebagian kecil cerita dari novel ini, masih banyak untuk disimak dan dinikmati kisah-kisahnya…. Buat yang pernah kuliah, apalagi di Bandung, mungkin bisa bernostalgia sesaat. Hehhehe

Rating?

Storyline: 3.5/5

Ga terlalu standar, tapi masih kurang dikit buat gw untuk dikasih 4.

Cover : 4/5

Gw suka sm covernya.

Advertisements

4 thoughts on “Review: Perahu Kertas (Dewi Lestari)

  1. Aha!! Sekarang tiba waktunya memberi komentar…

    Akhirnya gw selesai membaca novel ini dalam kurun waktu 4 hari, sambil nyolong2 jem kerja kantor, yang akhirnya identik dengan makan gaji buta… Haaahahaha

    Ya, secara keseluruhan novel ini lumayan lah mel, ceritanya ringan dan asik dikunyah2 sambil nyantai. Bahkan beberapa kali gw quick scan, gw baca singkat bbrp paragraf, dan seluruh ceritanya masih bisa ditangkep.

    Cuma satu hal yg mengganjal di gw, gaya bahasanya itu terlalu sederhana, terlalu “teenlit” banget, dan bener2 kyk bukan hasil tangan tulisan dee. Emang sih gw gak suka dengan gaya bahasa kyk gini, dan gw emang gak terbiasa buat baca novel2 indo model begini.
    Seperti yg kita pernah bahas, gw paling baca novel roman indo cuma Ilana Tan, sama dee ini. Dan meskipun tulisan Ilana Tan terkesan terjemahan, gw lebih ridho dan lebih enak bacanya ketimbang tulisan gaya ‘teenlit” begini.

    Trus komplen lainnya, gw sering kelepasan emosi saat membaca. Gw duga penyebabnya gara2 novel ini dipotong jadi adegan2 pendek gitu. Emosi yg susah2 dibangun bubar pas setiap ganti adegan. Selain itu, gara2 adegan yg dipotong2 pendek itu, gw jadi ngerasa alurnya ngebut banget. Apalagi ud menuju ending, gw serasa dikebut dan dijorokin pas tau2 cerita selesai gitu aja. Padahal bagian2 tengah bukunya cerita berputar2 di bagian yg ga penting menurut gw.

    Dan mengenai deskripsi, no komen lagi lah ya, udah dibahas komplenannya. Selain deskripsi, kadang gw juga lepas arah pas satu adegan dipotong dan masuk adegan baru. Kadang paragraf pembukanya itu ga menunjukan tokoh, tapi panjang lebar nulis ttg tempat dan suasananya. Jadi saat itu pasti gw nebak2 tokoh siapa nih diceritain. U ngerasa gitu juga gak??

    Selain komentar2 negatif, ada juga sih komen positifnya. Gw suka humor2nya, apalagi celetukan2 si kugy. Hahahahah.. Tokoh juga oke,, gw bisa ngerasain pertumbuhan karakter mereka dari awal sampe akhir. Overall, gw kasih rating 3/5 aja deh.. (Gw masih dendem ama ending ceritanya)

  2. Hahaha, waktu gw baca jg gw amat sangat tidak terbiasa dengan gaya bahasa yang seperti ini.

    Ya gw setuju soal adegan yang terpotong-potong abruptly, itu bikin gw gerah.. sigh. Endingnya juga emg agak terburu2… yang di awal slow2 aja, masih haha hihi, kok tiba2 terjun bebas, wakkakak

    Terus mengenai paragraf pembuka gw sih kayanya ga merasa gitu. Bisa kasih contoh?

  3. Contohnya kyak gini

    Bab 2
    (“Keenan mana, Ma?” tanya pria itu dengan gelisah. Badannya, yang tinggi dan masih tegap untuk umurnya yang memasuki kepala lima, hanya berbalutkan kaus putih polos dan celana olahraga. Langkah-langkah beratnya hilir mudik sedari tadi.
    “Palingan juga masih tidur,” jawab istrinya santai. Konsentrasinya lebih terpusat pada dua gelas berisi kopi susu panas yang sedang ia aduk.
    … )

    Atau yang ini
    Bab 6
    (Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat telepon di ruang tamunya sendiri. Tangannya memegang sebuah buku telepon yang terbuka, jemarinya bergerak-gerak tanda gelisah. Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku tidak harus melakukan ini, pikirnya. Puluhan tahun telah berlalu, tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah. Sambil menelan ludah, akhirnya ia membulatkan tekad dan memencet tombol-tombol itu: 0-3-6-1…)

    Atau ini juga
    Bab 8
    (Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang, satu kursi masih kosong. Meski hanya bertiga, suasan di meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu. Ibu mereka sesekali menimpali, atau ikut tertawa bersama)

    Nah kyak contoh2 begitulah, yang kadang bkin gw kesandung dan harus baca ulang. Soalnya kan sebelumnya satu adegan ud diputus, dan ini baru masuk adegan baru. Trus paragrafnya juga ckup panjang kan, jadi sebelum nyampe paragraf berikutnya, gw pasti mikir, ini siapa sih?? Dimana ini??

    Coba dibandingkan sama paragraf ini
    Bab7
    (Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama kereta api itu bertolak dari stasiun Bandung. Ia terbangun oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan terlalu lama dari seharusnya…)

    Kalo yang ini jelas kan, langsung nembak klo lagi adegan si keenan di kereta. Ya kayak gitu lah contohnya. Ga banyak sih, cuma beberapa aja yg bkin kesandung bacanya. Soalnya gw paling sebel klo baca novel ketemu kalimat yg ga nyambung trus gw harus baca ulang. Jadi bleber smua emosinya. Hahahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s